CEO OpenAI, Sam Altman, sempat menuai kritik karena dinilai terlalu banyak menjanjikan kemampuan GPT-5, sementara hasil awalnya dianggap belum memenuhi ekspektasi. Namun, kini OpenAI mulai menggulirkan pembaruan yang diyakini dapat mengatasi sejumlah masalah tersebut.
GPT-5 disebut sebagai model tercanggih OpenAI. Dalam pengujian, model ini terbukti unggul di bidang pengkodean dan bekerja jauh lebih cepat dibandingkan model lain, termasuk o3. Meski begitu, GPT-5 masih memiliki kelemahan, terutama dalam menghasilkan tulisan kreatif serta memanfaatkan kemampuan penalaran baru sesuai harapan pengguna. Model ini juga kerap memberikan jawaban singkat, bahkan saat diminta untuk menjelaskan secara mendetail.
Sebagian pihak menduga hal ini terjadi karena pembatasan jumlah token demi menghemat biaya. Namun, Sam Altman menyebut penyebabnya adalah bug tak terduga.
"Kemarin, autoswitcher rusak dan tidak berfungsi selama sebagian besar hari, dan akibatnya GPT-5 tampak jauh lebih bodoh," tulis Sam Altman dalam sebuah postingan di X.
Ia menambahkan, OpenAI akan menggandakan batas kecepatan GPT-5 untuk pengguna GPT Plus, meski implementasinya akan memakan waktu beberapa hari.
“Kami akan membiarkan pengguna Plus memilih untuk terus menggunakan 4o. Kami akan memperhatikan penggunaannya sambil memikirkan berapa lama model lama akan ditawarkan,” tambah Sam.
Mulai hari ini, GPT-5 akan mendapatkan peningkatan kecerdasan, dan OpenAI tengah menguji tombol baru untuk memaksa model ini menggunakan kemampuan penalaran. Altman juga berjanji memperbarui UI agar pengguna lebih mudah mengetahui model mana yang sedang digunakan serta memicu proses berpikir manual.
"Kami akan membuatnya lebih transparan tentang model mana yang menjawab kueri tertentu. Kami akan mengubah UI agar lebih mudah memicu pemikiran secara manual."
Saat ini, GPT-5 masih dalam proses peluncuran untuk pengguna gratis maupun berbayar, sehingga distribusinya mungkin memakan waktu lama. Sementara itu, OpenAI berencana memulihkan akses ke model lama, termasuk 4o, bagi pelanggan Plus. Namun, untuk saat ini, model lama tersebut hanya tersedia bagi pengguna Pro dengan biaya langganan sekitar $200 atau Rp.3 juta.

