Halaman

    Social Items

Showing posts with label Smartphone. Show all posts
Showing posts with label Smartphone. Show all posts

 


Sebuah malware Android baru berkonsep malware-as-a-service (MaaS) bernama Cellik dilaporkan tengah dipromosikan di forum-forum cybercrime underground. Malware ini menawarkan berbagai fitur berbahaya, termasuk kemampuan untuk disisipkan ke dalam aplikasi apa pun yang tersedia di Google Play Store.


Melalui metode tersebut, pelaku cybercriminal dapat memilih aplikasi resmi dari Play Store kemudian membuat versi trojan yang tampak meyakinkan. Aplikasi hasil modifikasi tetap mempertahankan tampilan, antarmuka, serta fungsi asli, sehingga sulit dibedakan dari aplikasi sah.


Karena masih berfungsi sebagaimana mestinya, infeksi Cellik berpotensi tidak terdeteksi dalam jangka waktu lama. Penjualnya bahkan mengklaim bahwa teknik penyamaran ini mampu melewati perlindungan Google Play Protect, meski klaim tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya.


Perusahaan keamanan seluler iVerify menemukan Cellik ditawarkan di forum underground dengan harga langganan sebesar US$150 (sekitar Rp2,5 juta) per bulan atau US$900 (sekitar Rp15 juta) untuk akses seumur hidup.



Kemampuan Berbahaya Cellik


Cellik tergolong sebagai malware Android dengan fitur lengkap. Ia mampu merekam dan menampilkan layar korban secara real-time, mencegat notifikasi aplikasi, menjelajahi sistem file, mengekstrak maupun menghapus data, serta berkomunikasi dengan server command-and-control melalui koneksi terenkripsi.


Malware ini juga dibekali mode browser tersembunyi yang memungkinkan penyerang mengakses situs web dari perangkat korban dengan memanfaatkan cookie yang tersimpan, sehingga sesi login korban dapat disalahgunakan.


Selain itu, sistem injeksi aplikasinya memungkinkan pelaku menampilkan halaman login palsu atau menyisipkan kode berbahaya ke dalam aplikasi untuk mencuri kredensial akun. Bahkan, Cellik dapat menyuntikkan payload ke aplikasi yang sudah terpasang, membuat aplikasi tepercaya tiba-tiba berubah menjadi ancaman tanpa disadari pengguna.


Fitur yang paling mengkhawatirkan adalah integrasi langsung dengan Google Play Store di dalam pembuat APK Cellik. Dengan fitur ini, pelaku dapat menelusuri Play Store, memilih aplikasi target, lalu menghasilkan versi berbahaya dari aplikasi tersebut hanya dalam beberapa langkah.


“Penjual mengklaim Cellik dapat melewati fitur keamanan Google Play dengan membungkus payload-nya dalam aplikasi tepercaya, yang pada dasarnya menonaktifkan deteksi Play Protect,” jelas iVerify.


"Meskipun Google Play Protect biasanya menandai aplikasi yang tidak dikenal atau berbahaya, trojan yang tersembunyi di dalam paket aplikasi populer mungkin lolos dari tinjauan otomatis atau pemindai tingkat perangkat."



Langkah Pencegahan


Untuk tetap aman, pengguna Android disarankan menghindari pemasangan APK dari sumber tidak resmi atau situs yang meragukan, kecuali benar-benar memercayai pengembangnya. Selain itu, pastikan Google Play Protect selalu aktif, periksa izin aplikasi secara berkala, dan waspadai aktivitas perangkat yang mencurigakan atau tidak biasa.

Malware Android Cellik Diklaim Mampu Tembus Google Play Protect


POCO, sub-brand dari Xiaomi, resmi meluncurkan dua ponsel terbarunya ke pasar global: POCO F8 Pro dan POCO F8 Ultra. Keduanya langsung mencuri perhatian berkat peningkatan fitur audio yang cukup signifikan.


Salah satu pembaruan terbesarnya adalah hadirnya speaker stereo hasil kolaborasi dengan Bose. Lewat kerja sama ini, POCO ingin menghadirkan kualitas suara yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya.


Meski sama-sama menggunakan speaker stereo, POCO F8 Ultra tampil lebih unggul berkat tambahan subwoofer internal, yang mampu menghasilkan frekuensi rendah dengan lebih kuat. POCO menyebutkan—mengutip laporan The Verge—bahwa fitur ini membuat F8 Ultra mampu menghadirkan dentuman bass yang lebih dalam dan lebih bertenaga, sehingga karakter suaranya akan berbeda dari model Pro.


Kolaborasi POCO dan Bose tidak berhenti di sisi hardware. Pada bagian software, Bose turut menghadirkan dua profil audio khusus, yaitu Dynamic Mode untuk bass yang lebih kuat dan Balanced Mode untuk vokal lebih jernih dan soundstage yang lebih luas.


Selain peningkatan audio, kedua ponsel ini juga menawarkan performa tinggi. POCO F8 Ultra ditenagai chipset Snapdragon 8 Elite Gen 5, sementara F8 Pro menggunakan Snapdragon 8 Elite generasi sebelumnya. Ukuran layarnya juga berbeda: F8 Ultra membawa panel OLED 6,9 inci, sedangkan F8 Pro hadir dengan layar 6,59 inci.


Keduanya telah mengantongi rating IP68 dan dibekali baterai besar berkapasitas lebih dari 6.000mAh. Untuk kamera, F8 Ultra menyuguhkan tiga kamera belakang 50MP serta mendukung wireless charging, sementara versi Pro hadir dengan spesifikasi kamera yang lebih rendah.


Sementara untuk harga, F8 Pro dibanderol dari $579 (sekitar Rp.9,6 juta), sementara Ultra tersedia mulai dari $729 (sekitar Rp.12,1 juta), meskipun diskon early bird sebesar $50 tersedia saat peluncuran. Kedua ponsel ini diumumkan bersama sepasang tablet di bawah $400, Pad X1 dan Pad M1, yang keduanya mengandalkan layar beresolusi tinggi dan speaker Dolby Atmos untuk memberikan pilihan hiburan yang terjangkau.

Kolaborasi POCO–Bose Hadirkan Revolusi Audio di F8 Pro dan F8 Ultra

 


Realme resmi merilis smartphone flagship terbarunya, GT 8 Pro di pasar India. Perangkat ini dibekali chipset Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5 serta chip AI Hyper Vision+ buatan Realme, yang menghadirkan performa tinggi untuk multitasking maupun gaming. Bahkan, ponsel ini mampu menembus skor lebih dari 4 juta poin di benchmark AnTuTu.


Salah satu inovasi terbesar GT 8 Pro adalah hadirnya fitur switchable camera bump pertama di dunia. Fitur ini memungkinkan pengguna melepas dan mengganti camera island untuk menghadirkan tampilan yang lebih personal. Sistem kameranya sendiri dikembangkan bersama Ricoh, menampilkan kamera telefoto 200MP dengan lossless zoom hingga 12×, kamera ultra-wide 50MP, serta kemampuan perekaman video tingkat lanjut seperti 8K 30fps dan 4K 120fps.


Untuk para gamer, Realme menyematkan AI Gaming Super Frame Engine dan sistem pendinginan 7K Ultimate VC Cooling System, yang menjamin frame rate stabil serta pengelolaan panas yang optimal. Ponsel ini juga dilengkapi dengan layar 2K HyperGlow dengan kecerahan puncak mencapai 7.000 nits, speaker stereo simetris, dan sistem haptic yang responsif.


Sektor baterai menjadi salah satu keunggulan utama. GT 8 Pro membawa baterai 7.000mAh yang mendukung fast charging 120W serta wireless charging 50W. Dalam sekali pengisian penuh, perangkat ini diklaim mampu bertahan lebih dari 20 jam untuk streaming video dan lebih dari 8 jam bermain game.


Smartphone ini menjalankan realme UI 7.0 berbasis Android 16, yang menghadirkan berbagai fitur AI seperti AI Notify Brief, AI Framing Master, AI Gaming Coach, serta Multi-task Sidebar yang memungkinkan pengguna membuka hingga 12 aplikasi sekaligus secara bersamaan.


Untuk harganya, versi standar GT 8 Pro dibanderol mulai ₹72,999 (sekitar Rp.13,7 juta). Sementara itu, edisi khusus Dream Edition yang terinspirasi dari tim Aston Martin Aramco F1 dijual seharga ₹79,999 (sekitar Rp.15 juta). Penjualannya dimulai pada 25 November melalui situs resmi Realme dan Flipkart.

Realme Luncurkan GT 8 Pro: Flagship AI dengan Layar 7.000 Nits dan Fast Charging 120W

 


Pembocor gadget terkenal, Evan Blass, kembali membocorkan informasi penting mengenai ponsel lipat tiga (trifold) terbaru dari Samsung. Perangkat tersebut kabarnya akan diberi nama Galaxy Z TriFold.


Menurut Blass, ponsel ini akan memiliki layar depan berukuran 6,5 inci dengan tingkat kecerahan maksimal mencapai 2.600 nits. Saat dibuka penuh, perangkat ini menampilkan layar dalam berukuran 10 inci dengan kecerahan puncak 1.600 nits. Dari segi performa, Galaxy Z TriFold dikabarkan dibekali kamera utama 200 megapiksel, baterai berkapasitas 5.437 mAh, serta chipset Snapdragon sebagai dapur pacunya.


Menariknya, ketebalan masing-masing panel layar bervariasi antara 3,9 mm, 4,0 mm, dan 4,2 mm, sehingga ketika dilipat, total ketebalannya mencapai sekitar 12,1 mm — sedikit lebih tipis dibandingkan ponsel trifold Huawei yang memiliki ketebalan 12,8 mm.


Meski bocoran ini cukup detail, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Samsung. Namun, rumor yang beredar menyebutkan bahwa Galaxy Z TriFold akan diluncurkan pada 5 Desember di Korea dengan harga sekitar $3.000 (sekitar Rp.50 juta).

Samsung Galaxy Z TriFold: Bocoran Spesifikasi, Desain dan Harga


Huawei baru saja meluncurkan ponsel tipis terbarunya, Mate 70 Air, yang menjadi model “Air” ketiga tahun ini—setelah iPhone dan Nubia Air dari ZTE. Tren ini menunjukkan bahwa pengaruh Apple masih lebih kuat dibandingkan Samsung dalam hal desain ponsel tipis.


Dengan ketebalan 6,6 mm, Mate 70 Air memang belum menyaingi upaya ekstrem Apple maupun Samsung, namun Huawei menebusnya dengan baterai 6.500 mAh yang sangat besar—jauh melampaui kapasitas Motorola Edge 70 yang hanya 4.800 mAh. Langkah ini meningkatkan tekanan bagi Apple dan Samsung untuk menghadirkan peningkatan daya tahan baterai di seri berikutnya.


Ukuran layar 7 inci yang sangat luas membuat Mate 70 Air tetap terasa besar di tangan, meski bodinya ramping. Huawei juga memberikan dua opsi prosesor yang agak tidak biasa: versi dengan RAM 12 GB menggunakan Kirin 9020B, sementara model 16 GB memakai Kirin 9020A—keduanya merupakan versi downclock dari Kirin 9020 standar.


Dari sisi kamera, perangkat ini dibekali tiga kamera belakang, termasuk lensa telefoto 12 megapiksel, yang cukup mengesankan untuk ponsel dengan bodi setipis ini.


Untuk saat ini, Mate 70 Air baru tersedia di Tiongkok dengan harga mulai dari ¥4.199 (sekitar Rp.9,8 juta). 

Huawei Mate 70 Air Resmi Dirilis: Ponsel Tipis 6,6 mm dengan Baterai 6.500 mAh

 


Sony resmi merilis Xperia 10 VII, ponsel Android kelas menengah yang dipasarkan di Inggris, Eropa, dan Asia—namun tidak hadir di Amerika Serikat. Perangkat ini menarik perhatian karena membawa perubahan desain besar pertama dalam lebih dari lima tahun, terutama pada bagian kamera belakang.


Jika sebelumnya seri Xperia selalu menempatkan kamera secara vertikal di sudut, kini Xperia 10 VII hadir dengan modul kamera horizontal berbentuk pil yang menonjol di punggung ponsel. Desain ini mengingatkan pada seri Google Pixel dan bahkan iPhone terbaru. Bodi plastik matte tersedia dalam tiga pilihan warna: hitam, putih, dan biru kehijauan.



Dari sisi depan, Xperia 10 VII masih mempertahankan ciri khas Sony: bezel tebal di atas dan bawah layar. Panel 6,1 inci ber-refresh rate 120Hz ini menggunakan rasio aspek baru 19,5:9 yang lebih standar, menggantikan format 21:9 yang selama ini menjadi identitas Xperia. Ukurannya tetap terasa lebih ringkas dan ringan dibanding mayoritas ponsel saat ini.


Sony juga mempertahankan beberapa fitur khas yang disukai penggemarnya, seperti jack audio 3,5mm, slot microSD, speaker stereo menghadap depan, rating ketahanan air dan debu IP65/68, serta tombol rana kamera khusus di sisi bodi.


Untuk dapur pacu, Xperia 10 VII ditenagai Qualcomm Snapdragon 6 Gen 3, dipadukan dengan kamera ganda 50MP utama dan 13MP ultrawide. Baterai berkapasitas 5.000mAh diklaim mampu bertahan hingga dua hari, meski hanya mendukung pengisian daya kabel.


Dengan harga €449 / £399 (sekitar Rp.8,6 juta), Xperia 10 VII sudah tersedia untuk pre-order di Inggris dan Eropa, dan mulai dikirimkan pada 19 September mendatang.


Meski performanya mungkin tidak menyaingi pesaing di kelas menengah, desain baru ini menjadi sinyal positif bahwa Sony masih serius dengan lini Xperia, dan bisa jadi awal dari perubahan yang akan merambah ke seri flagship di masa depan.

Sony Perkenalkan Xperia 10 VII dengan Desain Baru yang Lebih Modern

 


AI bisa menyenangkan dan berguna, tetapi juga menyimpan potensi bahaya. Salah satu contohnya adalah teknologi kloning suara, yang telah digunakan untuk menipu orang lewat panggilan dari "orang terdekat" yang ternyata palsu. Namun, kabar baiknya, AI juga bisa dimanfaatkan untuk melindungi kita dari penipuan semacam ini.


Samsung telah menghadirkan fitur deteksi voice phishing (phishing suara) di One UI 8. Untuk saat ini, fitur ini baru tersedia di Korea Selatan dan dikembangkan menggunakan data dari Kepolisian Nasional dan Institut Investigasi Ilmiah Nasional negara tersebut. Jika ponsel Anda kompatibel, Anda bisa menemukannya di aplikasi pengaturan Telepon, melalui opsi Voice Phishing Suspected Call Notification (Pemberitahuan Panggilan Terduga Phishing Suara).



Cara kerjanya cukup sederhana. Ketika Anda menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenal, akan muncul popup bertuliskan "mendeteksi," yang menandakan bahwa sistem sedang mendengarkan dan memindai kemungkinan penggunaan suara AI.


Jika sistem mendeteksi adanya suara hasil AI, ponsel akan bergetar dan memberikan peringatan, bahkan jika layar dalam keadaan mati. Ada dua tingkat peringatan: "dicurigai," yang menyarankan Anda untuk memverifikasi identitas penelepon, dan "terdeteksi," yang mengonfirmasi bahwa panggilan tersebut adalah phishing. Semua panggilan phishing yang terdeteksi juga akan disimpan di log panggilan.


Meskipun saat ini fitur ini terbatas di Korea Selatan, diharapkan Samsung akan segera bekerja sama dengan otoritas di berbagai negara untuk memperluas jangkauan dan melatih sistem ini dalam berbagai bahasa di masa depan.

Panggilan dari Orang Terdekat Bisa Palsu: Ini Fitur Anti Penipuan dari Samsung

 


Selama setahun terakhir, Apple menghadapi berbagai kritik, mulai dari kegagalan fitur AI hingga kontroversi atas perubahan arah desainnya. Namun, satu hal yang tak terbantahkan adalah Apple masih sangat piawai menjual iPhone. Dalam laporan keuangan terbaru, CEO Tim Cook mengumumkan pencapaian besar dimana penjualan iPhone telah menembus angka 3 miliar unit.


Angka ini bukan hanya besar, tetapi juga menunjukkan percepatan yang luar biasa. iPhone pertama dirilis pada 2007, dan butuh sembilan tahun untuk mencapai satu miliar unit (pada 2016). Namun, hanya lima tahun setelah itu, Apple menembus angka dua miliar, lalu hanya empat tahun lagi untuk mencapai tiga miliar. Dengan makin banyak anak muda yang memilih iPhone dibandingkan Android, tren ini tampaknya belum akan melambat.


Meski begitu, masa depan iPhone tidak sepenuhnya pasti. Eddy Cue dari Apple sempat mengatakan bahwa "mungkin Anda tidak akan memerlukan iPhone lagi dalam 10 tahun." Pernyataan ini cukup menggugah mengingat ponsel adalah produk andalan Apple. Upaya Apple dalam memperkenalkan bentuk perangkat baru sejauh ini belum memberikan gebrakan besar. Tambahan fitur AI pada iPhone pun dianggap kurang memuaskan. Dari luar, Apple tampak belum sepenuhnya siap menghadapi dunia digital satu dekade mendatang.


Tim Cook sendiri tampak menyadari tantangan ini. Saat ditanya tentang masa depan ponsel dalam laporan pendapatan, ia menyatakan bahwa Apple juga "memikirkan hal-hal lain," meski meyakini bahwa teknologi baru lebih mungkin menjadi pelengkap, bukan pengganti. Untuk saat ini, iPhone masih aman. Tapi siapa tahu, mungkin apa yang sedang dikerjakan oleh Sam Altman dan Jony Ive akan memperlambat laju Apple menuju angka empat miliar.

3 Miliar iPhone Terjual: Apakah Ini Puncak atau Titik Balik Apple?

 


Google Play Store disusupi oleh 43 aplikasi Android yang telah didownload sebanyak 2,5 juta kali. Aplikasi-aplikasi ini secara diam-diam memunculkan iklan saat layar ponsel dalam keadaan mati, yang pada akhirnya mengakibatkan konsumsi daya baterai yang berlebihan pada perangkat.


Mobile Research Team dari McAfee menemukan sejumlah aplikasi Android berbahaya dan telah menginformasikannya kepada Google karena pelanggaran terhadap kebijakan Google Play Store. Sebagai tanggapan, Google segera mengambil tindakan dengan menghapus aplikasi-aplikasi tersebut dari official store Android.


Mayoritas dari aplikasi-aplikasi tersebut merupakan aplikasi media streaming dan agregator berita, yang mayoritas audiensnya ditujukan kepada masyarakat Korea. Meskipun demikian, taktik penipuan yang sama dengan mudah dapat diterapkan pada berbagai kategori aplikasi dan beragam kelompok pengguna.


Walaupun aplikasi-aplikasi ini diklasifikasikan sebagai adware, mereka masih menghadirkan ancaman bagi pengguna dengan membuka potensi risiko terhadap profil pengguna, menguras daya baterai perangkat, mengonsumsi kuota data internet yang substansial, serta terlibat dalam penipuan terhadap pengiklan.



Bersembunyi di Google Play


Laporan dari McAfee menyebutkan bahwa adware disisipkan dalam aplikasi-aplikasi di Google Play yang berpura-pura sebagai aplikasi TV/DMB Player, Music Downloader, News dan Calendar.


Setelah terinstal di perangkat, aplikasi adware ini menunda aktivitas penipuan iklan mereka selama beberapa minggu, dengan tujuan untuk mengelabui pengguna dan menghindari pendeteksian oleh pihak peninjau di Google.


Menurut laporan dari McAfee, konfigurasi adware dapat diubah dan diperbarui secara remote melalui Firebase Storage atau Messaging. Hal ini memungkinkan para operator untuk mengadaptasi periode waktu dormansi dan parameter lainnya sesuai kebutuhan.



Android menggunakan fitur penghemat daya yang mengaktifkan mode siaga pada aplikasi saat perangkat tidak aktif. Fitur ini menghentikan aplikasi dari berjalan di background dan menggunakan sumber daya seperti CPU, memory dan jaringan.


Ketika aplikasi adware berbahaya terinstal, pengguna akan diberi opsi untuk mengecualikannya dari fitur penghemat daya Android. Ini memungkinkan aplikasi berbahaya untuk tetap berjalan di background meskipun fitur penghemat daya diaktifkan.


Dengan pengecualian ini, aplikasi adware memiliki kemampuan untuk mengambil dan memuat iklan bahkan saat layar perangkat dalam keadaan mati. Hal ini dilakukan dengan tidak adil untuk menghasilkan pendapatan, sementara pengguna tidak diberikan cara yang jelas untuk menyadari kegiatan yang sedang berlangsung.



McAfee mengamati bahwa ada kemungkinan bagi pengguna untuk melihat iklan yang dimuat sebentar saat mereka mengaktifkan layar perangkat sebelum iklan tersebut secara otomatis ditutup.


Namun demikian, tanda yang paling kuat mengenai kemungkinan kompromi adalah penggunaan baterai yang luar biasa tinggi ketika perangkat berada dalam keadaan diam.


Untuk memeriksa aplikasi yang paling banyak menggunakan energi pada perangkat Android anda, buka opsi "Settings → Battery → Battery Usage". Disini, anda akan melihat penggunaan energi dalam kategori "total" dan "background" dari aplikasi-aplikasi tersebut.


McAfee mencatat bahwa aplikasi adware juga meminta izin untuk draw over other apps, fungsi yang sering digunakan oleh trojan perbankan untuk menimbulkan halaman phishing di atas aplikasi e-banking yang sah. Namun, tidak ada tindakan phishing yang diamati dalam kasus ini.


Pengguna Android disarankan untuk secara konsisten membaca ulasan sebelum mendownload dan menginstal aplikasi, serta memeriksa izin yang diminta saat menginstal aplikasi baru sebelum memberikan izin untuk melanjutkan proses instalasi.

43 Aplikasi Google Play Memuat Iklan Saat Layar Mati


Samsung berencana untuk meluncurkan smartphone yang dapat dilipat akhir tahun ini. CNBC melaporkan bahwa CEO Samsung DJ Koh mengisyaratkan perangkat itu dapat diresmikan di konferensi pengembang Samsung pada bulan November, tetapi tidak jelas apakah konsumen benar-benar akan dapat membeli ponsel yang dapat dilipat tahun ini. Koh mengakui bahwa perangkat misteri "rumit" ini telah dikembangkan, dan rumor telah menyarankan Samsung akan meluncurkan ponsel dengan layar yang bisa ditekuk di bawah perusahaan Galaxy Note.

Samsung telah bereksperimen dengan layar OLED yang dapat ditekuk selama bertahun-tahun, dan perusahaan tersebut pertama kali meluncurkan prototipenya pada tahun 2012. Sejak saat itu, Samsung dilaporkan telah menguji smartphone dengan layar ganda, dengan tujuan membawa beberapa jenis perangkat ke pasar. Koh tidak mengatakan banyak petunjuk tentang apa yang diharapkan dari ponsel cerdas Samsung yang dapat dilipat, tetapi ia mengakui perangkat dan fitur-fiturnya perlu membuat konsumen bereaksi dengan "wow," dan inilah alasan Samsung membuatnya.

Samsung merilis sebuah konsep iklan untuk telepon lipat potensialnya pada tahun 2014. Iklan ini menampilkan perangkat dengan layar yang dapat ditekuk yang dilipat dari ukuran yang lebih mirip tablet ke dalam ponsel yang dapat dipegang. Perangkat Samsung mungkin termasuk layar tunggal 7 inci, menurut laporan awal tahun ini dari The Wall Street Journal. Layar tersebut dilaporkan dapat dilipat di bagian tengah seperti dompet, dengan bagian luar perangkat menampilkan bar kecil untuk informasi.

Samsung bukan satu-satunya perusahaan yang mengembangkan perangkat yang dapat dilipat. Lenovo bekerja pada ponsel dan tablet yang dapat ditekuk, dan Microsoft telah memimpikan perangkat Surface layar ganda selama bertahun-tahun. LG bahkan mengungkapkan TV OLED 65 inci yang dapat dilipat pada awal tahun ini.

Ponsel Cerdas Samsung Yang Dapat Dilipat Akan Diluncurkan Akhir Tahun Ini


Menjelang peluncurannya termasuk tanggal peluncuran dan tanggal rilis Samsung Galaxy Note 9, fitur baru dari smartphone tersebut bocor ke publik. Bocoran yang diperolh dari KT Telecom, perusahaan nasional Korea Selatan tersebut secara tidak sengaja mempublikasikan poster promosi yang mengungkap Galaxy Note 9 akan mulai dijual pada 24 Agustus. Sementara untuk peluncurannya sendiri pada 9 Agustus 2018.

Kontributor untuk Forbes, Gordon Kelly mengungkap spesifikasi dari smartphone tersebut.

Samsung akan memperbesar layar Galaxy Note 9 menjadi hampir 6,4 inci. Ini hanya peningkatan kecil dari 6,3 inci dari Galaxy Note 8, tetapi ini merupakan layar terbesar yang pernah dipasang Samsung ke dalam smartphone.

Galaxy Note 9 akan memiliki baterai besar 4.000 mAh. Hal ini bocor karena pengarsipan yang dibuat Samsung dengan Badan Telekomunikasi Nasional Brasil 'ANATEL' dan dinodai oleh SamMobile yang menyatakannya secara eksplisit.

Reporter teknologi populer Rusia Eldar Murtazin mengklaim bocornya unit baterai 4.000 mAh akan memberikan daya tahan baterai hingga dua hari dan dapat memutar video tanpa henti selama 25 jam pada kecerahan maksimum dengan sekali pengisian.

Sementar Ice Universe mencatat bahwa Samsung akan menawarkan Galaxy Note 9 dengan penyimpanan hingga 512GB, dua kali lipat dari rekor sebelumnya. Ini dikombinasikan dengan slot microSD dimana ponsel ini akan mendorong kapasitas potensinya melewati 1TB.

Upgrade besar ini akan sangat menggairahkan bagi penggemar Galaxy Note. Sekarang yang menjadi masalah selanjutnya adalah harga yang diminta Samsung. Awal pekan ini, sebuah petunjuk dari WinFuture mengatakan bahwa harga Galaxy Note 9 akan mulai dari $1230 hingga $1460 atau sekitar Rp.17 juta lebih hingga Rp.21 juta lebih (Kurs Rp.14.500).

Fitur Baru Samsung Galaxy Note 9